MEMOTRET PERTUNJUKAN PANGGUNG

4 09 2009

5250_104432999004_97143739004_2250705_1350220_n

Memotret pertunjukan di atas panggung perlu beberapa kiat agar bisa menghasilkan foto yang maksimal baik kualitas image atau kontennya.

Ada beberapa masalah dalam memotret pertunjukan pertama adalah tata cahaya panggung. Kadang dalam suatu pertunjukan tata cahayanya kurang maksimal bahkan bisa dibilang buruk sama sekali. Tantangan kedua, bagaimana bisa mendapat moment yang dramatis dalam pertunjukan itu. Foto yang baik dapat menampilkan klimaks adegan atau momen-momen dalam pertunjukan yang akan diingat terus oleh orang yang melihat foto kita.

Saya ingin berbagi beberapa kita untuk menghadapai masalah tatacahaya dan juga tantangan untuk mendapat adegan atau momen-monen terbaik dalam pertunjukan yang akan kita foto.

1. Siapkan peralatan foto untuk menghadapi masalah tata cahaya panggung.

– Gunakan lensa dengan bukaan besar. Misalnya lensa dengan bukaan f1.2, f2 , atau f2.8. semakin lebar bukaannya semakin memudahkan kita mengatasi tatacahaya panggung yang minim. Lensa yang menggunakan penahan getaran

– Jangan RAGU untuk membawa tripod atau monopod. Karena dengan cahaya panggung yang minim tripod atau monopod sangat membantu untuk mengurangi guncangan tangan ketika kita memencet tombol kamera. Terutama jika kita menggunakan lensa panjang atau tele dimana guncangan sedikit saja bisa menghasilkan foto yang blur.

2. Siapkan diri kita sebaik mungkin.

– Kalau ada waktu senggang datang dan memotretlah ketila gladiresik pertunjukan. Lebih baik lagi datang ketika mereka berlatih. Dengan datang di waktu latihan atau gladiresik kita akan mengetahui jalannya pertunjukan dan bisa mencatat momen-momen penting dan perubahan tatacahaya dalam setiap adegan. Dengan mengetahui itu semua memudahkan kita untuk memotretnya.

– Dengan datang dalam acara gladiresiknya kita bisa tahu posisi mana yang terbaik untuk memotret setiap adegan. Jadi ketika pertunjukan sesungguhnya kita bisa berpindah posisi (kalau tidak menggangu penonton atau fotografer lainnya) menyesuaikan angle terbaik dari tiap adegan.

– Malah menurut saya banyak lho foto pertunjukan yang baik dihasilkan bukan dalam pementasan sesungguhnya tapi dalam pertunjukan gladiresiknya (ingat ketika gladiresik setiap pemain sudah menggunakan wardrobe panggung asli sesuai pertunjukan). Lihat deh buku-buku tentang balet Bolsoy, saya yakin foto-foto dalam buku itu dibuat ketika bukan dalam pertunjukan sesungguhnya, terlalu sempurna.

Ketika gladiresik biasanya ada beberapa adegan yang diulang dalam rangka adjusment posisi, blocking pemain, timing, dan lain-lain. Pengulangan adegan ini bisa kita manfaatkan maksimal dengan bergerak ke berbagai posisi untuk mendapatkan angle terbaik. Oh ya, gladiresik biasanya tak ada penonton maka ketika kita bergerak kesana kemari tak akan menggangu penonton. Ini untungnya ketika memotret gladiresik.

– Catatlah atau ingat dengan tepat perubahan tatacahaya dan adegannya. Bikin prioritas tatacahaya dan adegan/momen terbaik mana yang betul-betul bagus untuk difoto. Tunggu dan konsentrasilah menunggu adaegan yang telah kita prioritaskan untuk difoto.

3. Trik teknis waktu mengklik tombol kamera.

– Karena tata cahaya panggung itu biasanya menggunakan lampu spot maka pencahayaanya tidak rata. Biasanya pangung didominasi latar gelap dengan penekanan cahaya pada pemain dengan lampu spot. Berbahaya kalau kita memotret panggung dengan ukuran cahaya rata-rata, karena yang terukur adalah bidang yang dominan gelap sehingga pengukur cahaya di kamera kita meminta waktu eksposure yang lebih lama. Hal ini menyebakan bagian-bagian yang terkena spot cahaya akan terlihat lebih terang artinya akan menghasilkan foto yang over eksposure pada pemainnya (bukan pada latar gelapnya). Kelebihan cahaya menyebakan banyak detail yang hilang dan itu mempengaruhi kualitas gambar.

– Kalau tetap ingin mengunakan ukuran cahaya rata-rata maka breketlah. Pengalaman saya sendiri kadang breket yang dibutuhkan bisa, mencapai 2-3 stop, atau minimal 1 stop. Tergantung dominan atau tidaknya bidang gelap terang di atas panggung. Semakin banyak gelapnya maka breketnya pun semakin tinggi. Dengan mengurangi waktu eksposure 1-3 stop maka kita bisa mendapat speed yang tinggi. Speed yang tinggi bisa membuat ‘freeze’ adegan yang kita ambil, ini keuntungan lainnya.

– Alternatif lain adalah dengan mengunakan ukuran cahaya titik(spot), bukan rata-rata. Tapi hati-hati, karena warna juga mempengaruhi lamanya waktu ekspoure. Warna biru atau merah membuat waktu eksposure menjadi lebih singkat. Warna hitam membuat waktu eksposur menjadi lebih lama. Yang dikhawatirkan ketika kita menggunakan pengukuran cahaya titik (spot), bidang yang kita ukur adalah warna-warna yang memperngaruhi kecepatan eksposure seperti yang saya sebutkan tadi (dan pula tatacahaya panggung bermacam-macam warna dan selalu berubah-ubah). Kalau itu terjadi tetap bisa menghasilkan foto yang over eksposure atau under eksposure.

Maka hati-hatilah jika menggunakan metode pengukuran cahaya titik (spot) ini. Perhatikan betul warna obyek yang kita jadikan target pengukuran cahaya.

Sebenarnya panggung itu sudah punya standar tersendiri baik ukurannya, jarak lampu ke panggung, kekuatan setiap lampu dan sebagainya. Ada range tertentu kekuatan lampu antara yang lemah sampai yang kuat. Perhatikan dengan seksama kapan lampu yang lemah dinyalakan dan kapan lampu yang kuat dinyalakan. Ukurlah eksposure tatacahaya yang terlemah dan yang terkuat. Kalau sudah dapat waktu eksposure cahaya terkuat dan yang terlemah, kita bisa menggunakan range eskposure sekitar itu ketika memotretnya. Dengan begitu kita sudah punya patokan bahwa kalau adegan di cahaya terlemah saya harus menggunakan speed sebesar ini dan adegan di cahaya terkuat speed sebenar ini. Maka kita tak terlalu direpotkan dalam mengukur cahaya sehingga bisa lebih efesien.

Untuk sementara saya cukupkan. Kalau ada yang belum jelas silakan bertanya dan belum tentu saya jawab lho… he…he….he….

Oh ya, saya mau tekankan lagi betapa pentingnya menonton gladiresik pertunjukan ataupun ketika latihan pertunjukannya. Kita bisa mengira-ngira angle mana yang terbaik dari tiap adegan. Saya beri contoh di bawah ini:

Foto pertama adalah saat latihan sebelum gladiresik saya mengambil angle dari sebelah kiri panggung (di GKJ kebetulan kanan dan kiri panggung jadi pool fotografer.

Dalam pertunjukan sesungguhnya saya merasa bahwa adegan tadi lebih baik jika diambil secara frontal dari depan panggung. Maka ketika adegan itu akan dimulai dengan perlahan tapi pasti saya segera pindah posisi ke depan panggung, berada di tengah tangga akses penonton. Usahakan jangan menggangu penonton ketika kita hilir mudik.

sumber:

http://hi-in.facebook.com/topic.php?uid=100238397287&topic=10036


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: